Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
AIK
di bajumu kau memelihara banyak kucing
di sepasang sepatumu pun begitu, penuh kucing
kucing-kucingmu suka sekali tidak acuh
bahkan ketika banyak yang mengaduh
akupun tidak mau kalah. aku lalu memelihara seekor anjing
anjing yang mengibaskan ekornya saat melihat kucing-kucingmu bermain
anjing yang ingin sekali mengajakmu bermain
anjing yang berkalung temali yang ditampat kencang dengan karang
-DH 304.
Karnaval dalam hujan
Aku menatap keluar jendela, jendela yang biasa ditemui di kostan laki-laki, kotor dan penuh dengan stiker band seperti Blink 182, The Ramones, NOFX atau Nirvana. Di luar hujan cukup deras, suara air yang jatuh di atap seng, mampu mengalahkan nada dering ponsel ku. Di atas meja tergeletak pulpen dan kertas-kertas soal yang katanya bakal keluar di ujian terakhir masa SMA ku. Tapi hujan di luar lebih menarik perhatian ku dari pada soal-soal itu, melihat orang-orang berlarian ditengah hujan lebih menyenangkan daripada angka-angka dan huruf X atau Y. wajah menggerutu, wajah lelah, dan wajah sedih bergantian keluar masuk dari jendela. Tiba-tiba saku ku bergetar, ada SMS masuk. Tentu saja aku sudah tau siapa pengirimnya, dan dia pasti baru saja menyelesaikan latihan pramuka di sekolahnya, ini sudah pukul 5, tak banyak kata tertera di layar ponsel ku, 2 kata “aku kangen”.
**
Aku kecewa, ini adalah liburan pertama aku sejak aku tinggal sendiri di Jombang, sebelum menaiki kapal yang berangkat dari Surabaya ke Sampit, aku membayangkan diriku tengah menyombongkan diri di depan teman-teman SD ku. Bagi ku, menjadi kebanggaan tersendiri ketika bersekolah jauh dari orang tua dan tinggal sendiri. Meski baru beberapa bulan, rasanya aku sudah merasa cukup mandiri dan menjadi laki-laki sejati. hal ini juga terus memenuhi kepala ku saat berada di mobil panther selama 4 jam sejak aku meninggalkan Sampit dan tiba di Palangka Raya, kota kelahiran ku.
Sementara ruang keluarga penuh dengan ibu-ibu yang bergosip, di luar, aku masih bisa mendengar suara ketukan palu para bapak-bapak yang sibuk menghias mobil pick up tua yang mereka sulap menjadi Pinisi, kapal khas dari Sulawesi Selatan. Dan aku harus rela untuk mengenakan baju adat berwarna biru laut lengkap dengan songkok berwarna kuning terang. Menjadi bagian dari karnaval bukanlah agenda dari liburan ku, seharusnya aku berada di depan televisi,memegang stik PS dan menyelesaikan misi terakhir untuk menyelamatkan kota Racoon dari para zombie.
Matahari ceria sekali hari ini, ayah ku juga. Aku bisa melihatnya dari senyum dan matanya saat menggendong anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki dan mendudukannya di atas ‘Pinisi’. Tapi tidak dengan ku.
“kenapa harus aku?” Tanya ku.
“badan mu kecil” jawabnya singkat.
“aku sudah kelas satu SMP!”,aku berusaha berdebat,
“dan badan mu kecil”, lalu ia perlahan mengecil lalu menghilang dengan senyuman khasnya itu.
Aku menyadari bahwa Karnaval akan segera di mulai saat aku merasa kapal ‘Pinisi’ sudah bergerak untuk berlayar. Di sini cukup sempit, aku melihat 2 bangku kosong tepat di depan ku,dan seorang pria yang sibuk dengan ‘jas tutup’-nya. Aku tidak mengenalinya. 10 menit kami tenggelam dalam diam.
**
“KARNAVAL BUDAYA NASIONAL KE-XX” aku menatap spanduk besar bergambarkan burung hitam yang besar dengan paruh panjangnya. Entah apa jenisnya. Tiba-tiba perlahan laju ‘Pinisi’ melambat, namun suara di sekitar ku semakin ramai. aku tahu aku tidak sendiri, jalan kini mulai di padati belasan mobil-mobil hias lainnya, ada yang berbentuk rumah Joglo, ada yang berbentuk seperti Reog,bahkan ada yang membawa bedug dengan para penabuhnya lengkap dengan speaker beserta mic-nya. Entah apa maksudnya.
Suara bapak walikota terdengar dari alun-alun kota hampir bersamaan dengan di injaknya rem mobil hias yang aku naiki, dan pria yang tadi bersamaku turun dari mobil sambil memberi tanda agar aku tetap menunggu dengan tangannya. Sepertinya bapak walikota sedang memberi sambutan dan berbicara tentang budaya, aku mendengarnya tapi tidak memperhatikannya,karena aku memilih memperhatikan pria asing itu kembali datang dengan anak-anak yang berpakaian mirip denganku. 1 laki-laki dan 2 perempuan. “Hmm. Teman senasib” pikir ku.
“ayo semua naik ke mobil!” akhirnya pria asing itu bersuara juga. sambil menolong anak-anak itu naik satu-persatu. Pria itu sepertinya sedang ceria juga seperti matahari dan ayahku, itu terlihat dari siulannya saat memasang spanduk kecil di bagian kiri badan mobil. Dengan bantuan ku dan teman baru ku tentunya. “Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan” adalah tulisan yang paling besar dari pada tulisan-tulisan yang lain yang tercetak di spanduk itu, setidaknya hanya itu yang aku bisa baca.
Musik khas dayak mulai di mainkan setelah berakhirnya sambutan yang di berikan bapak walikota. Para penari masuk ke lapangan, warga menyemut, membuat setengah lingkaran di sekitar para penari, di atas mobil adalah posisi yang cukup baik untuk melihat tarian itu untuk ku, tak cuma penari yang bisa aku dapatkan di sini, ada juga para pedagang yang berhasil memenuhi trotoar dengan dagangannya, minuman soda, bakso, balon sampai mainan anak-anak. sepertinya siang ini adalah siang yang sibuk.
Sebuah percakapan yang berdialeg tidak asing membuat ku harus memperhatikan sumber suara itu, si gadis kecil dengan pria asing. Sepertinya itu bahasa bugis, dan gadis yang duduk tepat di depan ku cukup mahir menggunakannya. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa bugis. Meski orangtua ku kedua berasal dari Sulawesi Selatan mereka tak pernah mengajarkan ku berbahasa bugis. Mereka sudah cukup lama pindah dan tinggal di Palangka Raya, bahkan sebelum aku lahir. Dan sepertinya anak laki-laki yang berbadan lebih tinggi dari ku tidak tertarik dengan percakapan itu, ia memilih berbincang dengan anak perempuan yang juga tak kalah tinggi darinya.
**
‘Pinisi’ berlayar lambat, mungkin aspal memang bukan medan yang tepat untuknya, atau rumah dari Jerami khas Papua di depan terlalu lambat?, sedangkan, pria ber-‘jas tutup’ sudah pergi sejak beberapa tarian telah selasai di pentaskan dan mobil-mobil hias di persilahkan untuk berkeliling kota. Menjadi “tontonan” di jalan,di tambah dengan 3 anak-anak yang sama sekali tidak aku kenal. bukanlah hal yang menyenangkan.
Berbaju Bodo lengkap dengan bando, kalung, anting, dan gelang berwarna emas sepertinya cukup menyiksa gadis di depan ku, wajahnya cemberut. Aku kasihannya melihatnya.
“berat ya?, Aku mencoba mencairkan suasana.
“Hah?”, Ia terkejut.
“berat ya?, aku bertanya lagi.
ia hanya mengganggukkan kepala, sebelum akhirnya kami kembali menatap orang-orang yang asik menikmati pemandangan langka di kotanya, yaitu kami.
“itu burung tingang”, tiba-tiba gadis itu berbicara. Aku hanya bisa diam menatapnya berbicara tentang nama burung berparuh panjang yang menjadi gambar di spanduk dan model dari patung bundaran yang sedang aku perhatikan.
“burung tingang itu burung nya orang dayak, makanya penari-penari dayak menggunakan bulu burung tingang untuk di taruh di kepalanya “ tambahnya.
Patung burung di bundaran itu adalah rute terjauh sebelum akhirnya rombongan mobil hias harus kembali ke alun-alun kota, sekaligus menjadi awal pembicaraan kami selama beberapa saat sebelum hujan akhirnya harus menghentikan karnaval dengan paksa. ‘nahkoda’ kami memilih sebuah ruko yang baru selesai di bangun untuk berteduh. setelah menurunkan kami dari kapalnya ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang tua kami satu persatu.
Sore ini langit begitu gelap, hujan turun keras, dan Angin sepertinya tak ingin kalah dengan langit. Aku mencuri-curi dengar percakapan tentang cuaca yang berubah-ubah dari supir kami dan pengendara sepeda motor yang tidak membawa mantel. Sedangkan kami berempat tidak saling bicara, dan dalam diam, aku menyukai gadis itu.
Hujan hampir mereda. Para pengendara lain mulai melanjutkan perjalanannya, lampu jalan juga sudah di nyalakan, saat sebuah mobil datang mendekat dan membawa anak perempuan yang bertubuh besar. Lalu mobil yang lain datang, gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada kami, sebagai tanda perpisahan tanpa kata-kata, Aku tahu ini sudah waktunya. Dan akhirnya mobil itu harus berjalan dalam gerimis dan lampu jalan, lalu menghilang.
**
Hujan di luar masih belum selesai, soal-soal di meja juga begitu. Aku masih enggan menyelesaikannya. Aku masih ingin menikmati pertunjukkan hujan dari jendela. Tapi pesan dari kekasih ku memaksa ku untuk sejenak mengabaikan hujan dan membalasnya. lalu aku meletakkan ponsel ku ke atas meja dan kembali menikmati hujan.
**
Sebuah mobil berhenti di sebuah lampu merah di dekat bundaran burung, jalanan di sekitarnya basah,sepertinya karena hujan. Di dalamnya hanya ada seorang perempuan dengan seragam berwarna coklat. Ia sedang membaca pesan yang baru masuk di ponselnya, “aku juga kangen, kamu masih ingat cerita soal burung Tingang tidak? ”
**
Aku kecewa, ini adalah liburan pertama aku sejak aku tinggal sendiri di Jombang, sebelum menaiki kapal yang berangkat dari Surabaya ke Sampit, aku membayangkan diriku tengah menyombongkan diri di depan teman-teman SD ku. Bagi ku, menjadi kebanggaan tersendiri ketika bersekolah jauh dari orang tua dan tinggal sendiri. Meski baru beberapa bulan, rasanya aku sudah merasa cukup mandiri dan menjadi laki-laki sejati. hal ini juga terus memenuhi kepala ku saat berada di mobil panther selama 4 jam sejak aku meninggalkan Sampit dan tiba di Palangka Raya, kota kelahiran ku.
Sementara ruang keluarga penuh dengan ibu-ibu yang bergosip, di luar, aku masih bisa mendengar suara ketukan palu para bapak-bapak yang sibuk menghias mobil pick up tua yang mereka sulap menjadi Pinisi, kapal khas dari Sulawesi Selatan. Dan aku harus rela untuk mengenakan baju adat berwarna biru laut lengkap dengan songkok berwarna kuning terang. Menjadi bagian dari karnaval bukanlah agenda dari liburan ku, seharusnya aku berada di depan televisi,memegang stik PS dan menyelesaikan misi terakhir untuk menyelamatkan kota Racoon dari para zombie.
Matahari ceria sekali hari ini, ayah ku juga. Aku bisa melihatnya dari senyum dan matanya saat menggendong anak laki-laki satu-satunya yang ia miliki dan mendudukannya di atas ‘Pinisi’. Tapi tidak dengan ku.
“kenapa harus aku?” Tanya ku.
“badan mu kecil” jawabnya singkat.
“aku sudah kelas satu SMP!”,aku berusaha berdebat,
“dan badan mu kecil”, lalu ia perlahan mengecil lalu menghilang dengan senyuman khasnya itu.
Aku menyadari bahwa Karnaval akan segera di mulai saat aku merasa kapal ‘Pinisi’ sudah bergerak untuk berlayar. Di sini cukup sempit, aku melihat 2 bangku kosong tepat di depan ku,dan seorang pria yang sibuk dengan ‘jas tutup’-nya. Aku tidak mengenalinya. 10 menit kami tenggelam dalam diam.
**
“KARNAVAL BUDAYA NASIONAL KE-XX” aku menatap spanduk besar bergambarkan burung hitam yang besar dengan paruh panjangnya. Entah apa jenisnya. Tiba-tiba perlahan laju ‘Pinisi’ melambat, namun suara di sekitar ku semakin ramai. aku tahu aku tidak sendiri, jalan kini mulai di padati belasan mobil-mobil hias lainnya, ada yang berbentuk rumah Joglo, ada yang berbentuk seperti Reog,bahkan ada yang membawa bedug dengan para penabuhnya lengkap dengan speaker beserta mic-nya. Entah apa maksudnya.
Suara bapak walikota terdengar dari alun-alun kota hampir bersamaan dengan di injaknya rem mobil hias yang aku naiki, dan pria yang tadi bersamaku turun dari mobil sambil memberi tanda agar aku tetap menunggu dengan tangannya. Sepertinya bapak walikota sedang memberi sambutan dan berbicara tentang budaya, aku mendengarnya tapi tidak memperhatikannya,karena aku memilih memperhatikan pria asing itu kembali datang dengan anak-anak yang berpakaian mirip denganku. 1 laki-laki dan 2 perempuan. “Hmm. Teman senasib” pikir ku.
“ayo semua naik ke mobil!” akhirnya pria asing itu bersuara juga. sambil menolong anak-anak itu naik satu-persatu. Pria itu sepertinya sedang ceria juga seperti matahari dan ayahku, itu terlihat dari siulannya saat memasang spanduk kecil di bagian kiri badan mobil. Dengan bantuan ku dan teman baru ku tentunya. “Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan” adalah tulisan yang paling besar dari pada tulisan-tulisan yang lain yang tercetak di spanduk itu, setidaknya hanya itu yang aku bisa baca.
Musik khas dayak mulai di mainkan setelah berakhirnya sambutan yang di berikan bapak walikota. Para penari masuk ke lapangan, warga menyemut, membuat setengah lingkaran di sekitar para penari, di atas mobil adalah posisi yang cukup baik untuk melihat tarian itu untuk ku, tak cuma penari yang bisa aku dapatkan di sini, ada juga para pedagang yang berhasil memenuhi trotoar dengan dagangannya, minuman soda, bakso, balon sampai mainan anak-anak. sepertinya siang ini adalah siang yang sibuk.
Sebuah percakapan yang berdialeg tidak asing membuat ku harus memperhatikan sumber suara itu, si gadis kecil dengan pria asing. Sepertinya itu bahasa bugis, dan gadis yang duduk tepat di depan ku cukup mahir menggunakannya. Aku sama sekali tidak mengerti bahasa bugis. Meski orangtua ku kedua berasal dari Sulawesi Selatan mereka tak pernah mengajarkan ku berbahasa bugis. Mereka sudah cukup lama pindah dan tinggal di Palangka Raya, bahkan sebelum aku lahir. Dan sepertinya anak laki-laki yang berbadan lebih tinggi dari ku tidak tertarik dengan percakapan itu, ia memilih berbincang dengan anak perempuan yang juga tak kalah tinggi darinya.
**
‘Pinisi’ berlayar lambat, mungkin aspal memang bukan medan yang tepat untuknya, atau rumah dari Jerami khas Papua di depan terlalu lambat?, sedangkan, pria ber-‘jas tutup’ sudah pergi sejak beberapa tarian telah selasai di pentaskan dan mobil-mobil hias di persilahkan untuk berkeliling kota. Menjadi “tontonan” di jalan,di tambah dengan 3 anak-anak yang sama sekali tidak aku kenal. bukanlah hal yang menyenangkan.
Berbaju Bodo lengkap dengan bando, kalung, anting, dan gelang berwarna emas sepertinya cukup menyiksa gadis di depan ku, wajahnya cemberut. Aku kasihannya melihatnya.
“berat ya?, Aku mencoba mencairkan suasana.
“Hah?”, Ia terkejut.
“berat ya?, aku bertanya lagi.
ia hanya mengganggukkan kepala, sebelum akhirnya kami kembali menatap orang-orang yang asik menikmati pemandangan langka di kotanya, yaitu kami.
“itu burung tingang”, tiba-tiba gadis itu berbicara. Aku hanya bisa diam menatapnya berbicara tentang nama burung berparuh panjang yang menjadi gambar di spanduk dan model dari patung bundaran yang sedang aku perhatikan.
“burung tingang itu burung nya orang dayak, makanya penari-penari dayak menggunakan bulu burung tingang untuk di taruh di kepalanya “ tambahnya.
Patung burung di bundaran itu adalah rute terjauh sebelum akhirnya rombongan mobil hias harus kembali ke alun-alun kota, sekaligus menjadi awal pembicaraan kami selama beberapa saat sebelum hujan akhirnya harus menghentikan karnaval dengan paksa. ‘nahkoda’ kami memilih sebuah ruko yang baru selesai di bangun untuk berteduh. setelah menurunkan kami dari kapalnya ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang tua kami satu persatu.
Sore ini langit begitu gelap, hujan turun keras, dan Angin sepertinya tak ingin kalah dengan langit. Aku mencuri-curi dengar percakapan tentang cuaca yang berubah-ubah dari supir kami dan pengendara sepeda motor yang tidak membawa mantel. Sedangkan kami berempat tidak saling bicara, dan dalam diam, aku menyukai gadis itu.
Hujan hampir mereda. Para pengendara lain mulai melanjutkan perjalanannya, lampu jalan juga sudah di nyalakan, saat sebuah mobil datang mendekat dan membawa anak perempuan yang bertubuh besar. Lalu mobil yang lain datang, gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada kami, sebagai tanda perpisahan tanpa kata-kata, Aku tahu ini sudah waktunya. Dan akhirnya mobil itu harus berjalan dalam gerimis dan lampu jalan, lalu menghilang.
**
Hujan di luar masih belum selesai, soal-soal di meja juga begitu. Aku masih enggan menyelesaikannya. Aku masih ingin menikmati pertunjukkan hujan dari jendela. Tapi pesan dari kekasih ku memaksa ku untuk sejenak mengabaikan hujan dan membalasnya. lalu aku meletakkan ponsel ku ke atas meja dan kembali menikmati hujan.
**
Sebuah mobil berhenti di sebuah lampu merah di dekat bundaran burung, jalanan di sekitarnya basah,sepertinya karena hujan. Di dalamnya hanya ada seorang perempuan dengan seragam berwarna coklat. Ia sedang membaca pesan yang baru masuk di ponselnya, “aku juga kangen, kamu masih ingat cerita soal burung Tingang tidak? ”
28 Des 2012
Tag :
Fiksi
Dear cinta
Hal-hal kecil yang sepele pun terkadang membuat perih
Bercerita di malam hari
Tentang masa depan dan masa lalu
Tentang apa yang kita inginkan di masa depan
Coretan-coretanmu di tangan ku
Malam yg dingin dan kisah - kisah yang biasa
Semua terasa luar biasa bila bersama mu
Takkan pernah ada sulit bila bersama mu
“putih yang ada di kuku mu artinya kamu pemalas”
“pacaran itu suatu dosa?”
“bau.. kau pasti belum mandi?”
“jadi kamu yang pawai itu?”
“gusi perokok memang seperti itu, gurunku yang bilang”
“kalau kau pergi lagi jangan berbuat aneh-aneh ya ”
Masihkah kau ingat semuanya?
Masihkah kau ingat bagaimana kau memelukku?
Masihkah kau ingat bagaimana kau membisikkan cinta padaku?
Masihkah kau ingat bagaimana kau genggam tanganku?
Masihkah kau ingat bagaimana rasanya cinta?
Apakah kau mengingatnya atau kau melupankannya
Apakah kau menjaganya atau kau membuangnya
Apakah kau anggap ini kenangan atau sampah masa lalu
Hanya kau yang tau
Hanya kau yang rasa
yang kuinginkan hanyalah melihatmu tersenyum
Tak peduli berapa pun berat badanmu nanti
Tak peduli banyak uban mu nanti
Ku hanya ingin bersamamu
Palangka Raya, Oktober 2009
Bercerita di malam hari
Tentang masa depan dan masa lalu
Tentang apa yang kita inginkan di masa depan
Coretan-coretanmu di tangan ku
Malam yg dingin dan kisah - kisah yang biasa
Semua terasa luar biasa bila bersama mu
Takkan pernah ada sulit bila bersama mu
“putih yang ada di kuku mu artinya kamu pemalas”
“pacaran itu suatu dosa?”
“bau.. kau pasti belum mandi?”
“jadi kamu yang pawai itu?”
“gusi perokok memang seperti itu, gurunku yang bilang”
“kalau kau pergi lagi jangan berbuat aneh-aneh ya ”
Masihkah kau ingat semuanya?
Masihkah kau ingat bagaimana kau memelukku?
Masihkah kau ingat bagaimana kau membisikkan cinta padaku?
Masihkah kau ingat bagaimana kau genggam tanganku?
Masihkah kau ingat bagaimana rasanya cinta?
Apakah kau mengingatnya atau kau melupankannya
Apakah kau menjaganya atau kau membuangnya
Apakah kau anggap ini kenangan atau sampah masa lalu
Hanya kau yang tau
Hanya kau yang rasa
yang kuinginkan hanyalah melihatmu tersenyum
Tak peduli berapa pun berat badanmu nanti
Tak peduli banyak uban mu nanti
Ku hanya ingin bersamamu
Palangka Raya, Oktober 2009
29 Okt 2012
Tag :
Fiksi
Tersadar
sampai juga akhirnya aku pada titik ini
di mana aku tak mengenali apa dan siapa diri ku
aku tak lagi merindukan apa dan siapa yang ku kagumi
tak lagi melakukan hal-hal yang aku cintai
tak ada lagi kertas kosong untuk bercerita
tak ada lagi mimpi yang bisa ku bagi
di mana ku selalu berteriak dan meronta pada jiwa ini
jiwa yang pergi di mana aku sendiri tak tau kapan dia telah pergi
Palangka Raya, July 2010
di mana aku tak mengenali apa dan siapa diri ku
aku tak lagi merindukan apa dan siapa yang ku kagumi
tak lagi melakukan hal-hal yang aku cintai
tak ada lagi kertas kosong untuk bercerita
tak ada lagi mimpi yang bisa ku bagi
di mana ku selalu berteriak dan meronta pada jiwa ini
jiwa yang pergi di mana aku sendiri tak tau kapan dia telah pergi
Palangka Raya, July 2010
Tag :
Fiksi
kata cinta?
Cinta itu tidak ada rumusnya.
Terkadang butuh seumur hidup untuk menerangkannya.
Padahal tak mungkin bisa terangkan.
semua karya manusia terlahir karena cinta
musik,coretan di kertas,lukisan di kanvas, film
semua tercipta untuk dan karena cinta
entah cinta itu kepada pasangan,keluarga,sahabat,uang atau kedudukan
semua itu terlahir karena cinta
cinta itu rumit
tetapi sebenarnya cinta itu sederhana
terkadang kita memiliki beberapa alasan mengapa kita
menyukai atau menyayangi sesuatu
entah parasnya, tingkah lakunya, apa yg dia miliki dan banyak hal lainnya yang dapat di jadikan alasan untuk itu
tetapi cinta berbeda
dia tidak membutuhkan hal-hal itu
karena hanya akan merusak apa yg d namakan cinta itu sendiri
tak perlu alasan untuk mencintai sesuatu
karena cinta adalah hal yang paling tulus yang pernah ada
sesuatu yang akan membuat kita ikhlas kehilangan apapun untuk membuatnya tersenyum
meskipun terkadang sakit yang kita dapat
tetapi itulah cinta
ketika kita merasa kesepian
kita selalu berharap seseorang akan datang menemani
saat kita melihat sebuah pasangan yang tertawa begitu lepas d depan mata
ada perasaan perih, iri atau sesuatu yang membuat rasa perih itu lahir
tetapi ketika kita memiliki pasangan
rasa tidak sempurna dan jenuh biasanya akan menghampiri
entah kapan
ada yang bilang
cinta sejati itu adalah mendengarkan, mengerti, memahami
tanpa harus di dengarkan, di mengerti ataupun di pahami
ada yang bilang
cinta sejati itu cinta ibu kepada anaknya
meski tidak semua itu keluarga bahagia
tapi naluri sebagai ibu itu selalu ada
ada yang bilang
cinta sejati itu adalah sahabat
di mana tertawa dan menangis itu di lakukan bersama
seseorang yang paling mengerti kita
menangis saat kita sakit
tertawa saat kita bahagia
sampai sekarang pun aku juga belum tahu persis apa itu cinta?
aku hanya mendengar dan melihat
pendapat orang lain tentang apa itu cinta
mungkin juga karena ada yang bilang
bahwa cinta itu tidak di ungkapkan
tapi di rasakan
Terkadang butuh seumur hidup untuk menerangkannya.
Padahal tak mungkin bisa terangkan.
semua karya manusia terlahir karena cinta
musik,coretan di kertas,lukisan di kanvas, film
semua tercipta untuk dan karena cinta
entah cinta itu kepada pasangan,keluarga,sahabat,uang atau kedudukan
semua itu terlahir karena cinta
cinta itu rumit
tetapi sebenarnya cinta itu sederhana
terkadang kita memiliki beberapa alasan mengapa kita
menyukai atau menyayangi sesuatu
entah parasnya, tingkah lakunya, apa yg dia miliki dan banyak hal lainnya yang dapat di jadikan alasan untuk itu
tetapi cinta berbeda
dia tidak membutuhkan hal-hal itu
karena hanya akan merusak apa yg d namakan cinta itu sendiri
tak perlu alasan untuk mencintai sesuatu
karena cinta adalah hal yang paling tulus yang pernah ada
sesuatu yang akan membuat kita ikhlas kehilangan apapun untuk membuatnya tersenyum
meskipun terkadang sakit yang kita dapat
tetapi itulah cinta
ketika kita merasa kesepian
kita selalu berharap seseorang akan datang menemani
saat kita melihat sebuah pasangan yang tertawa begitu lepas d depan mata
ada perasaan perih, iri atau sesuatu yang membuat rasa perih itu lahir
tetapi ketika kita memiliki pasangan
rasa tidak sempurna dan jenuh biasanya akan menghampiri
entah kapan
ada yang bilang
cinta sejati itu adalah mendengarkan, mengerti, memahami
tanpa harus di dengarkan, di mengerti ataupun di pahami
ada yang bilang
cinta sejati itu cinta ibu kepada anaknya
meski tidak semua itu keluarga bahagia
tapi naluri sebagai ibu itu selalu ada
ada yang bilang
cinta sejati itu adalah sahabat
di mana tertawa dan menangis itu di lakukan bersama
seseorang yang paling mengerti kita
menangis saat kita sakit
tertawa saat kita bahagia
sampai sekarang pun aku juga belum tahu persis apa itu cinta?
aku hanya mendengar dan melihat
pendapat orang lain tentang apa itu cinta
mungkin juga karena ada yang bilang
bahwa cinta itu tidak di ungkapkan
tapi di rasakan
28 Mar 2011
Tag :
Fiksi